Copied to clipboard!

Ilustrasi saat membeli mobil . (shutterstock)



TIPS

6 Hal Yang Perlu Diketahui Jika Ingin Membeli Mobil di Era Pandemi Covid-19

Author : Herdi Muhardi

09 Sep 2020


Di tengah pandemi Covid-19, penjualan di sektor otomotif menurun tajam. Hal ini tak lain karena dampak penyebaran virus corona, membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar.

Ya, karena PSBB ini banyak pabrikan otomotif menutup proses produksi, termasuk dealer yang menjual mobil ikut tutup sementara.

Namun kini, pabrikan maupun dealer otomotif sudah kembali beroperasi dengan menerapkan standar kesehatan, mulai dari menggunakan masker dan face shield, wajib dan rajin mencuci tangan, hingga tetap menjaga jarak.

Bahkan untuk menarik konsumen membeli mobil, sejumlah dealer kini tak sungkan memberikan berbagai promo diskon dan lainnya. 

Hanya saja, seperti yang diungkap Lifepal.co.id, di era pandemi seperti saat ini ada beberapa  yang perlu diperhatikan jika OLXer memang berminat untuk membeli mobil, antara lain:

1. Ketahui apa benar-benar butuh mobil 

Mobil sejatinya merupakan aset, harganya mahal namun nilainya terus menyusut seiring dengan berjalannya waktu. Sangat penting untuk mengetahui apakah diri kita saat ini memang “membutuhkan mobil” atau hanya “ingin” memiliki atau menggantinya karena sudah bosan.

Sebut saja, seseorang membutuhkan mobil untuk kepentingan bisnisnya dalam mengangkut barang, serta melihat peluang kerja sampingan yang menguntungkan dengan menjadi driver taksi online. Alasan ini bisa menjadi justifikasi baginya untuk membeli mobil saat ini.

Atau seseorang bisa saja harus membeli mobil baru, lantaran mobil yang saat ini digunakan untuk operasional sehari-hari sudah lebih dari lima tahun usianya. Pergantian suku cadang tentu akan sering dilakukan, dan harga jual mobilnya pun bakal mengalami penurunan drastis.

Jika dia tidak segera menjual mobilnya saat ini dan membeli yang baru, maka harga mobilnya makin terdepresiasi. Dia pun harus merogoh kocek lebih dalam lagi untuk membeli mobil baru.

Kedua alasan ini mungkin bisa menjadi justifikasi bagi seseorang untuk membeli mobil baru. Oleh karena itu pertimbangkanlah dahulu dan tanyakan kepada diri sendiri, apakah kita memang membutuhkannya untuk saat ini? Jika jawabannya ya, tanyakan kembali ke diri Anda, apakah kebutuhan pokok lain sudah terpenuhi?

2. Jangan beli mobil jika tak punya dana darurat

Patut diingat bahwa, pandemi Covid-19 telah menciptakan ketidakpastian ekonomi bagi segala sektor industri, termasuk bagi perusahaan tempat kita bekerja. Kita pun bisa saja menjadi korban dari pandemi ini. Sektor pekerjaan atau usaha kita bisa saja terkena dampak yang menyebabkan berkurang atau hilangnya pekerjaan kita. 

Oleh karena itu, sebelum membeli mobil, pastikan bahwa Anda sudah menyediakan dana darurat minimal enam kali pengeluaran bulanan Anda. Dana darurat akan sangat berguna untuk menanggung biaya hidup Anda jika pendapatan terhenti. Sudah cukupkah dana darurat Anda saat ini?

3. Membeli mobil tunai ada kekurangannya

Membeli tunai sejatinya memang lebih “murah” daripada kredit. Hal itu disebabkan karena tidak adanya beban bunga lewat pembelian tunai.

Namun pembelian tunai bisa mengakibatkan Anda kekurangan likuiditas (aset lancar). Jumlah tabungan, atau kas maupun setara kas yang ideal adalah 15 – 20 persen dari kekayaan bersih. Sedangkan nilai kekayaan bersih didapat dari hasil pengurangan total aset dan utang.

Jika aset lancar kurang dari 15 persen tentunya membuat kita kekurangan kas. Oleh karena itu, pembelian mobil secara kredit mungkin bisa jadi solusi.

4. Jangan asal mengajukan kredit

Jika tidak memungkinkan bagi Anda untuk membeli tunai, maka kredit mungkin jadi solusinya. Membeli secara kredit artinya kita akan berutang untuk membeli mobil tersebut.

Ada dua kelebihan membeli mobil secara kredit. Pertama, tentunya bisa menghindari masalah kekurangan kas, dan yang kedua adalah mendapatkan asuransi mobil dari pihak pemberi kredit. 

Ingat pula bahwa, kredit adalah utang. Wajib bagi Anda untuk mengetahui nilai rasio utang berbanding aset (debt to asset ratio) dengan cara membagi total utang Anda dan total aset.

Besaran nilai utang yang ideal adalah tidak lebih dari 50 persen total aset. 

Sementara itu, ketahui pula nilai debt service ratio (rasio kemampuan pelunasan utang) dengan membagi cicilan utang dan besaran pemasukan bulanan kita. Jika nilainya di atas 35 persen maka cicilan utang kita sudah terlalu besar. 

5. Harus siap dengan biaya-biaya ini

Kepemilikan mobil juga menguras biaya. Anda harus siap dengan pengeluaran ekstra. Risiko-risiko kepemilikan mobil seperti ban kempes di jalan, habisnya masa pakai aki mobil atau suku cadang lain umumnya bukan termasuk yang dicover oleh asuransi.

Belum lagi, adanya pajak tahunan yang wajib Anda bayar.

Pastikan saja, pengeluaran-pengeluaran Anda untuk kepemilikan kendaraan tidak akan mengganggu arus kas pengeluaran bulanan dan tahunan Anda. Jangan biarkan arus kas bersih Anda minus karena pengeluaran-pengeluaran ini. 

6. Asuransi mobil jangan dihentikan

Mobil adalah aset yang tidak murah. Kehilangan mobil karena tindakan pencurian atau kerusakan parah akibat kecelakaan tentu menjadi resiko finansial yang tidak ringan.

Itulah sebabnya, pemilik mobil seharusnya memiliki asuransi mobil. Karena hanya asuransi mobil-lah yang bisa memberikan ganti rugi terhadap hilangnya mobil karena pencurian atau kerusakan.