Copied to clipboard!

Ilustrasi deretan mobil bekas.



MOBIL BEKAS

Bebas Biaya Balik Nama Jadi Harapan Pedagang Mobil Bekas Agar Laris di Masa Pandemi

Author : Herdi Muhardi

19 Nov 2020


Penjualan mobil bekas di Indonesia selama pandemi Covid-19 sama seperti mobil baru, yaitu mengalami penurunan hingga 40-50 persen. Setidaknya hal ini turut dirasakan perusahaan yang menjual mobil bekas dari grup Astra, Mobil88.

Menurut Chief Operating Officer Mobil88 Halomoan Fischer, turunya penjualan mobil bekas tidak hanya karena pandemi, tetapi juga resesi ekonomi yang membuat daya beli masyarakat menjadi menurun.

“Resesi dan pandemi ini akan mengakibatkan perubahan konsumen di market, dan yang bisa bertahan bisa beradaptasi secara cepat terhadap perubahan itu. Singkatnya itulah untuk kita bisa bertahan di market, dan memberikan yang terbaik di pasar,” ungkap Fischer saat acara Ngobrol Virtual yang diadakan Forwot, Rabu (19/11/2020).

Fischer mengatakan, jika sempat ada usulan pajak nol persen untuk mobil baru kepada pemerintah, maka pedagang mobil bekas, berharap untuk menggerakan pasar, maka diberikan keringanan atau dihilangkan sementara Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB).

“Kalau dibilang stimulus, saya mengkaitkan dengan kebanyakan pembeli mobil bekas belum tertib untuk balik nama. Pada saat pajaknya habis, yang saya tau pembeli mobil bekas belum tertib melakukan bea balik nama,” ucap Fischer

Kata Fischer, tak sedikit pembeli mobil bekas ogah melakukan melakukan balik nama karena ada biaya yang harus dikeluarkan.

Ya, seperti diketahui melakukan proses balik nama sangat diperlukan, karena dalam kondisi tertentu nama di surat-surat tersebut bukanlah nama OLXer yang berpotensi suatu saat menjadi masalah atau cukup riskan.

Selain itu, jika mobil belum dibalik nama, maka ketika membayar pajak tahunan, OLXer harus bersedia meluangkan waktu meminjam kartu identitas, dalam hal ini KTP pemilik sebelumnya sebagai syarat pembayaran.

Fischer sendiri mengatakan, jika stimulus tersebut diberikan saat membeli mobil bekas, setidaknya pemerintah turut mendukung penjual mobil bekas yang masuk ke dalam golongan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

“Mobil bekas ini mungkin dibilang UMKM, karena kebanyakan toko-toko kecil, yang jualan masyarakat bawah, dan ini mungkin bisa menggerakan masyarakat bawah,” tuturnya.