Copied to clipboard!

Ilustrasi kecelakaan sepeda. (Freepik)



BERITA

Kecelakaan Pesepeda Saat Pandemi Coronavirus Meningkat di Seluruh Dunia

Author : Herdi Muhardi

14 Jul 2020


Alat transportasi ramah lingkungan seperti sepeda kini semakin populer tak hanya  di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Meningkatnya penggunaan sepeda saat ini tak lain karena dampak pandemi covid-19, dimana masyarakat takut menggunakan angkutan umum.

Bayangkan saja, jika sebelum pandemi penjualan sepeda rata-rata hanya tercatat 20-30 unit per minggu, kini setidaknya 50 sepeda gowes laku setiap hari. Bahkan di beberapa negara, seperti di Inggris dan Amerika Serikat, alasan masyarakat memilih mengendarai sepeda sebagai karena lebih aman dibandingkan transportasi umum.

Di Indonesia sendiri, berdasarkan catatan Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia peningkatan signifikan pesepeda di DKI Jakarta saja hingga 1.000 persen atau 10 kali lipat selama pandemi coronavirus. Demikian berdasarkan keterangan tertulis, Selasa (14/7/2020). 

Namun begitu, komunitas pecinta sepeda Bike to Work (B2W) mencatat, sepanjang Januari hingga Juni 2020, terdapat 29 peristiwa kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pesepeda.  Dari data tersebut, setidaknya akibat kecelakaan lalu lintas 58 persen atau 17 pesepeda meninggal dunia.

Kata Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan MTI Pusat Djoko Setijowarno, kecelakaan pengendara sepeda di New York, Amerika Serikat meningkat hingga 43 persen selama pandemi coronavirus. 

“Meningkatnya kecelakaan pengendara sepeda terjadi karena lonjakan pesepeda baru belum didukung oleh infrastruktur yang baik bagi pesepeda. Faktanya 10 dari 28 pesepeda yang tewas di jalan-jalan New York City tertabrak oleh pengemudi kendaraan bermotor,” terangnya.

Infrastruktur Khusus Sepeda

Solusi untuk mengurangi tingginya kecelakaan sepeda, membuat pemerintah kota harus memperluas infrastruktur pesepeda, baik sementara atau secara permanen selama pandemi coronavirus. 

“Contohnya, Bogotá (Colombia) menambah jaringan sepeda sepanjang 22 mil. Proyek percontohan NUMO (New Urban Mobility Operator) melakukan kegiatan meminjamkan e-sepeda kepada pekerja perawatan Kesehatan,” ujarnya.

Tidak hanya itu, beberapa kota di berbagai negara di dunia seperti halnya Philadelphia (Amerika Serikat) menanggapi petisi publik untuk menciptakan lebih banyak ruang bagi pengendara sepeda dan pejalan kaki untuk beroperasi dengan aman dengan menutup segmen jalan besar sepanjang 4,4 mil.

Selain itu, Mexico City mengusulkan rencana untuk 80 mil infrastruktur sepeda sementara untuk mengurangi risiko penggunaan transportasi umum dan memfasilitasi mobilitas di megalopolis lebih dari 21 juta orang.

Kemudian di Berlin, Jerman menerapkan jalur sepeda sementara 1 mil di sepanjang jalan utama dan memiliki rencana untuk memperluas infrastruktur pop-up, bersama dengan 133 kota di Jerman lainnya. Hal ini pula diikuti beberapa kota seperti di Oakland, Minneapolis, Denver, Louisville, Vancouver dan Calgary.