Copied to clipboard!

Ilustrasi deretan mobil yang dijual di Indonesia.



MOBIL BEKAS

Masih Pandemi, Mobil Bekas Jenis Ini Bakal Laris Jelang Akhir Tahun

Author : Herdi Muhardi

19 Nov 2020


Akibat pandemi Covid-19 yang tak kunjung selesai, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) selaku asosiasi industri kendaraan bermotor di Tanah Air kembali merevisi target penjualan sampai akhir 2020, dari 600 ribu unit menjadi 525 ribu unit.

Sebelumnya, Gaikindo memang menargetkan wholesales (penjualan dari pabrik ke dealer) pada 2020 bisa tembus 1,05 juta unit. Hanya saja, hal ini harus pupus, karena tak sedikit masyarakat justru mengurungkan niatnya membeli mobil baru, dengan banyak faktor

Lalu bagaimana dengan pasar mobil bekas apakah justru mengalami kenaikan, mengingat mobil bekas disebut-sebut harganya lebih miring, dan dipercaya dapat mengurangi resiko terpapar virus corona dari penumpang lain di transportasi umum.

Menanggapi hal tersebut, Chief Operating Officer Halomoan Fischer mengatakan memang tak menampik jika menggunakan mobil pribadi akan lebih aman.

“Tapi, tidak semua juga orang beralih ke mobil pribadi. Ada segmen tertentu yang punya being power dengan kepraktisan ingin memiliki mobil pribadi agar lebih save,” ungkap Fischer saat acara Ngobrol Virtual bersama Forwot, Rabu (18/11/2020).

Selain itu, Fisher mengatakan, pasar mobil baru atau bekas sama-sama mengalami penurunan selama pandemi. Bahkan, munculnya wacana penghapusan pajak menjadi nol persen untuk mobil baru beberapa waktu lalu, membuat pasar otomotif heboh.

“Kalau sampai mobil baru (harganya) turun 40 persen, dampaknya orang tidak akan membeli mobil bekas. Kalau memang terjadi pasti lebih memilih mobil baru daripada mobil bekas,” kata dia.

Akan tetapi, Fisher kini bisa bernafas lega, setelah Menteri Keuangan Sri Mulyani memutuskan tidak menyetujui wacana yang diusulkan kementerian perindustrian.

"Semuanya itu menahan pembelian, saat isu pajak nol persen untuk kendaraan baru dari segala segmen terdampak. Begitu wacana itu dikatakan masih dikaji, semua segmen jalan lagi baru setelah Oktober 2020, pasar langsung bergerak lagi, animonya naik lagi yang.paling laku sampai hari ini LCGC dan LMPV baik ada wacana pajak nol persen atau tidak," tuturnya.

“Kenaikan penjualan mobil bekas sangat terasa (setelah wacana pajak nol persen masih dikaji kembali), dari pertengahan Oktober sampai hari ini (animo kembali naik). Kalau datanya persisnya tidak ada tapi selama isu itu bergulir, penjualan kami turun,” ujarnya.

Adapun jenis mobil bekas yang cukup dicari selama masa pandemi Covid-19 atau saat ada dan tidak ada isu pajak nol persen, yaitu mobil dengan range harga di bawah Rp 150 jutaan berupa segmen Low Cost Green Car dan Low Multi Purpose Vehicle.

“Kenapa? LCGC dan Low MPV, rasanya akan bergairah sampai November-Desember, kenapa? Karena LCGC dan Low MPV tergantung dari dukungan leasing. Kkalau dari dukungan leasing kuat, market ini akan bergerak dengan baik,” kata dia.

Fisher juga menyatakan, mobil dengan range harga di bawah Rp 150 jutaan cukup banyak dipilih masyarakat untuk pembelian kredit. Selain itu, dalam dua bulan terakhir perputaran ekonomi sudah mulai membaik.

Adapun alasan lain kenapa November-Desember cukup laris, hal ini diketahui karena akan terjadi libur panjang, yang sempat digaungkan pemerintah sebagai pengganti libur Hari Raya Idul Fitri.

Ya, meski liburan bukan cara yang tepat dan dianjurkan pemerintah apalagi ditiru di saat masa pandemi, namun faktanya hal tersebut tetap menjadi pilihan masyarakat untuk mengisi waktu bersama keluarga.