OLX News Logo
Menu Icon OLX News Logo Search Icon
OLX News Logo Close Icon

Home /  Berita /  Presiden Jokowi Sebut 2-3 Tahun Lagi Mobil Listrik Semakin Bermunculan di Indonesia



Presiden Jokowi Sebut 2-3 Tahun Lagi Mobil Listrik Semakin Bermunculan di Indonesia

14 Oct 2021

Ilustrasi mobil listrik sedang melakukan pengisian daya. (Shutterstock)

Presiden Joko Widodo memiliki harapan tersendiri soal mobil listrik di Indonesia. Bahkan, orang nomor satu di Indonesia itu meminta kepada sejumlah pihak untuk mendirikan industri kendaraan listrik di Tanah Air.

Harapan presiden yang akrab disapa Jokowi ini disampaikan saat memberikan pengarahan kepada Peserta Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXIII dan Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXII Tahun 2021 Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Rabu (13/10/2021).

“Kita stop ekspor bahan mentah, kita paksa entah itu BUMN, swasta kita atau investor untuk mendirikan industrinya di dalam negeri. Nanti bisa lihat dua atau tiga tahun lagi yang namanya mobil listrik mulai bermunculan dari negara kita,” ungkap Jokowi.

Seperti diketahui, saat ini memang sudah ada beberapa merek otomotif yang ada di Tanah Air memiliki produk mobil listrik, seperti Renault Twizy, Hyundai Ioniq, Hyundai Kona, Lexus UX300e, Nissan Leaf, DFSK Gelora E, Tesla Model S, Model X dan Model 3.

Bahkan Presiden RI Jokowi juga telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan.

Menurut Jokowi, sudah saatnya semua komoditas yang dimiliki Indonesia didukung mulai dari hilirisasi, sampai kegiatan industri. Sebaliknya Jokowi ingin Indonesia tidak bisa lagi mengekspor dalam bentuk raw material, dalam bentuk bahan mentah yang tidak memiliki nilai tambah

Adapun menurut Jokowi, selain dapat menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah, Indonesia juga harus mengkombinasikan antara pemanfaatan kekayaan alam dengan kearifan dan teknologi yang melestarikan.

Maka dari itu, dia juga menyebutkan potensi Indonesia untuk mengembangkan proses pembuatan kendaraan listrik sudah sangat baik. Pasalnya, Indonesia memiliki sumber daya alam yang mumpuni dan sangat bermanfaat untuk industri otomotif.

Ya, dalam hal ini Indonesia memiliki nikel yang bisa dimanfaatkan untuk proses bahan baku baterai. Selain itu, ada juga material stainless steel, yang bisa dibuat untuk berbagai macam kebutuhan sebuah kendaraan seperti sasis dan bodi.

“Inilah sebuah kesempatan, jangan sampai nanti kita kehilangan opportunity lagi, kehilangan kesempatan lagi, dulu ada booming minyak kita kehilangan, ada booming kayu kita kehilangan. Ini tidak, minerba (mineral batubara) ini harus menjadi sebuah pondasi kita dalam rangka memajukan negara kita Indonesia,” ujar Jokowi.

“Karena sekarang krakatau steel dengan pembaharuan yang ada pabrik street mill sudah bisa memproduksi lembaran-lembaran tipis yang bisa dipakai bodi mobil. Dulu hanya dipakai untuk sasis, sekarang bisa dipakai bodi mobilnya,” jelas Jokowi yang pernah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Pabrik Baterai Terbesar di Asia Tenggara

Keinginan Jokowi untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu basis industri otomotif bisa saja menjadi kenyataan. Termasuk menggaet investor asing.

Setidaknya hal itu dilakukan PT HKML Battery Indonesia yang merupakan pabrik patungan pembuat baterai yang dimiliki Hyundai Motor Group dan LG Energy Solution, yang berlokasi di Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Bahkan Jokowi secara langsung meresmikan peletakan batu pertama atas pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik pada 15 September 2021 lalu. Pabrik ini disebutkan menelan nilai investasi sebesar US$1,1 miliar.

“Dengan potensi yang luar biasa itu, saya yakin dalam 3-4 tahun ke depan melalui manajemen yang baik, manajemen pengelolaan yang baik, Indonesia akan bisa  menjadi produsen utama produk-produk barang jadi berbasis nikel, seperti baterai lithium, baterai listrik, dan baterai kendaraan listrik,” jelas Jokowi.

Kata Jokowi, jika Indonesia memiliki industri nikel diolah, maka akan meningkatkan nilai tambah secara signifikan hingga 6-7 kali lipat. Bahkan, Jokowi menyebutkan, apabila pengembangan dilakukan sampai menjadi mobil listrik, maka peningkatannya lebih besar dengan nilai tambahnya sekitar 11 kali lipat.

“Oleh karena itu, pengembangan industri baterai akan meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai negara tujuan investasi dari industri turunan yang menggunakan baterai seperti investasi motor listrik, bus listrik dan industri mobil listrik,” terangnya.

 

 

Herdi Muhardi
Herdi Muhardi

Penulis konten otomotif mulai dari sepeda motor, mobil, bus hingga truk yang sempat menjadi jurnalis sejak 2011 di beberapa media mainstream ternama di Indonesia.



Berita Terkait



Baca Juga