Copied to clipboard!

Ilustrasi kondisi macet di Jakarta. (GeorginaCaptures - Shutterstock.com)



BERITA

Solusi Tepat Mengurai Kemacetan Menurut Pengamat Transportasi

Author : Herdi Muhardi

28 Feb 2020


Macet jadi salah satu hal yang harus dihadapi masyarakat di kota-kota besar. Tak terkecuali di DKI Jakarta, di mana kemacetan akibat volume kendaraan yang meningkat kini tak lagi mengenal batas waktu. Tentu saja berbagai upaya mengatasi kemacetan lalu lintas sudah dilakukan oleh pemangku kepentingan, mulai dari konvensional hingga program terencana, terintegrasi dan terpadu.

Beberapa upaya untuk mengurai kemacetan di Jakarta dan wilayah penyangga yang sudah dilakukan seperti Three in one, Ganjil-Genap, pembatasan operasional Angkutan barang, dan lainnya.

Namun demikian, Pemerhati Masalah Transportasi Budiyanto mengatakan, ada baiknya para pemangku kepentingan yang bertanggung jawab dibidang lalu lintas untuk tetap terus bergerak membuat langkah-langkah inovasi yang didasari kajian lebih mendalam.

“Karena saya yakin apabila tidak ada langkah-langkah yang berkelanjutan situasi kemacetan akan lebih parah, seiring dengan perkembangan jumlah penduduk dan sarana transportasi yang bergerak dinamis dan cepat,” ungkap Budiyanto dalam pesan tertulis, Jumat (28/2/2020).

“Memang harus ada suatu kebijakan yang terintegrasi dan terpadu seiring dengan alur perkembangan tadi. Dalam arti bahwa tidak mungkin dan mustahil satu kebijakan dapat menyelesaikan masalah kemacetan yang komplek ini,” sambungnya.

Budi yang merupakan mantan Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya menyarankan, agar program-program yang sudah ada tetap berjalan dan melakukan evaluasi supaya lebih maksimal, maka untuk mengatasi masalah kemacetan baiknya mengakselerasikan konsep Transit Oriented Development (TOD).

Konsep ini, kata Budi, merupakan konsep pengembangan kota melalui pendekatan tata ruang campuran dengan memaksimalkan moda transportasi umum. Artinya, kota-kota yang dilalui jalur utama transportasi dan berpenduduk padat dapat dikembangan dan dibangun perumahan penduduk dengan didukung fasilitas pendukung yang bersifat primer maupun sekunder, seperti pusat perbelanjaan kebutuhan pokok, prasarana olahraga, prasarana ibadah, perkantoran, perbankan, kesehatan, fasilitas pejalan kaki dan pesepeda, serta prasarana pendukung lainnya.

“Kebutuhan mereka akan mudah terpenuhi, gampang terjangkau dengan sarana jalan kaki maupun bersepeda. Kemudian apabila sewaktu ingin bepergian keluar dari kawasan TOD dapat menggunakan Transportasi umum yang sudah ada (eksisting),” ucapnya.

Biaya Tinggi Butuh Investasi

Budi menyadari, untuk mewujudkan konsep ini biayanya yang harus dikeluarkan memang cukup tinggi. Akan tetapi jika dikaji akan tetap lebih menguntungkan karena kebutuhan mereka dapat terpenuhi di kawasan tersebut.

“Situasi ini tentunya akan mengurangi aktivitas mereka di jalan umum, berkurangnya penggunaan kendaraan pribadi karena sudah tersedia angkutan umum. Berarti secara otomatis akan mereduksi atau mengurangi kemacetan di jalan,” katanya.

Untuk mewujudkan adanya TOD, Budi menuturkan, hal tersebut karena adanya kerja sama antara pemerintah dengan pihak ketiga dalam rangka untuk mendukung proses pembiayaan.

Menurutnya, kebutuhan yang mendesak mungkin bisa segera dapat dilaksanakan dengan cara menginventarisir lokasi-lokasi yang dapat dibangun atau dikembangan seperti konsep TOD.

“Dalam implementasi pembangunan secara bertahap dengan menempatkan skala prioritas dengan melihat fakta di lapangan sebagai salah satu pertimbangan,” tutup Budi.