Copied to clipboard!
Suzuki Ertiga Hybrid

Sistem kerja mesin Suzuki Ertiga DIesel Hybrid



BERITA

Teknologi Ertiga Hybrid Disebut Ketinggalan Zaman, Ini Tanggapan Suzuki

Author : Zainal Abidin

14 Feb 2020


Jakarta - Menyambut Peraturan Presiden (PERPRES) No.55 tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan, beberapa merek kendaraan yang jualan di Tanah Air mulai berlomba-lomba unjuk teknologi kendaraan listrik yang mereka miliki.

Toyota merupakan salah satu merek mobil yang hadirkan banyak model kendaraan listrik, mulai dari yang teknologi hybrid, plug in hybrid hingga yang full elektrik. Merek lainnya yang juga tak mau kalah unjuk teknologi kendaraan elektrifikasi di Indonesia ada Mitsubishi, BMW, serta yang paling baru ada Hyundai. 

Sebelumnya Bluebird Group juga berhasil mendatangkan puluhan unit Tesla dan BYD sebagai armada taksi berbasis mobil listrik. Serta yang terakhir, Hyundai Ioniq menjadi bagian dari Grab.

Ini menjadi penanda nyata bahwa Indonesia sudah siap menyambut tren kendaraan elektrifikasi. Lalu bagaimana Suzuki Indonesia menanggapi tren ini? 

DItemui di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat pada Selasa, 11 Februari 2020 lalu, Donny Saputra selaku Head of Marketing PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) mengaku sudah siap.

“Untuk kendaraan listrik, Agustus lalu kan Perpres-nya sudah ditandatangani. Tapi pertanyaannya adalah juknis-nya (petunjuk teknis) seperti apa. Dan ini kan baru diumumkan pada pertengahan tahun ini. Nah, kami masih menunggu dulu nih. Kalau tiba-tiba juknis-nya menetapkan kendaraan hybrid harus dua baris, tentu akan berantakan persiapan kami,” terang Donny saat disinggung soal Suzuki Ertiga Hybrid. 

Yang pasti secara keseluruhan Suzuki Indonesia sudah siap, namun masih menunggu juknis yang dikeluarkan Pemerintah terrkait aturan mobil listrik. 

“Jadi kalau ditanya soal persiapan, pastinya kita sudah siap. Teman-teman bisa lihat sendiri pas Oktober tahun kemarin kita sudah display mobil konsep Ertiga Hybrid di Monas. Tapi apakah model nantinya Ertiga atau yang lain, kita masih diskusi dengan prinsipal sekaligus menunggu juknas,” lanjutnya.

Pilih Bermain di Teknologi Mild Hybrid Dibanding Full Battery 

Sistem kerja mild hybrid di Suzuki Ertiga Diesel Hybrid (Foto: Wheelmonk)

Seperti diketahui, Suzuki sempat memperlihatkan All New Ertiga berteknologi Smart Hybrid Vehicle Suzuki (SHVS) di Monas tahun lalu. 

Berbeda dengan Ertiga Diesel Hybrid yang pernah dirilis bulan Februari 2017, All New Ertiga Hybrid sekarang sudah dibekali dengan baterai lithium sebagai penyimpan tenaga cadangan, bukan aki seperti yang di Ertiga DIesel Hybrid.

Namun beberapa pihak menyebut teknologi hybrid Suzuki ini masih kalah canggih dengan model elektrifikasi merek kompetitor yang rata-rata sudah full elektrik. 

Menanggapi hal ini, Donny Saputra menjawab santai. “Kita harus balik lagi ke tujuan Pemerintah dibalik Perpres No.55 tahun 2019. Yang saya tau tujuan aturan ini dibuat adalah untuk mengurangi konsumsi bahan bakar tak terbarukan, dan ramah lingkungan. Kalau kita langsung ke full battery atau strong hybrid, efeknya itu sedikit,” timpal Donny. 

Ini dipengaruhi karena harga jual dari model tersebut (full battery dan strong hybrid) masih sangat tinggi, sehingga memengaruhi daya beli masyarakat. Artinya pembelinya lebih sedikit.

“Jadi yang paling masuk akal bagi kami adalah menjual kendaraan hybrid seharga Rp 250 juta ke bawah. Pembelinya lebih masif. Artinya pakai produk hybrid kami,” pungkasnya. 

Intinya bagi Suzuki, buat apa jual mobil berteknologi elektrik yang ramah lingkungan kalau yang beli sedikit karena harganya tinggi. Mending jualan mobil mild hybrid, harga terjangkau, pembelinya banyak, maka tujuan dari lahirnya Perpres No.55 bisa terwujud. Bukan begitu OLXers? (Z)