Bisnis Jasa Pengiriman Bertumbuh di Tengah Pandemi, Isuzu Ambil Untung

0
24

Masa pandemi COVID-19 merupakan masa paling sulit bagi seluruh sektor industri di Tanah Air. Tingkat ekonomi masyarakat menurun akibat banyak bidang usaha yang terpaksa tutup, bahkan sampai harus melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) para karyawan. 

Meski kondisi ini cukup mengkhawatirkan, masih ada beberapa bidang usaha yang justru malah bertumbuh, salah satunya adalah bisnis logistik dan jasa pengiriman. Ini disebabkan adanya perubahan pola konsumsi masyarakat yang mulai beralih ke online.

“Sejak Januari traffic impor dari Cina memang sudah menurun. Tapi paling terasa memang di bulan Maret sampai terjadi PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), dimana transportasi dan tindakan karantina menghambat supply proses pengiriman barang. Tapi disisi lain, justru terjadi peningkatan yang signifikan dari perubahan pola perilaku konsumsi masyarakat dari pembelian offline menjadi online. Ini adalah peluang dari pengusaha logistik untuk terus berjalan disaat volume distribusi logistik international menurun,” beber Ardito Soepomo, Ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo) area Jawa Timur, dalam sebuah webinar bertema “Peluang Bisnis Baru : Siasat Bisnis Logistik dan Jasa Pengiriman di tengah Pandemi Covid-19”, Senin, (6/7/2020).

Dari sisi bisnis, ini tentu menjadi sebuah peluang besar, meskipun keadaan secara keseluruhan sedang menurun, ditambah kompetisi di sektor logistik yang bukan saja diisi oleh pemain ekspedisi namun juga penyedia jasa ojek online, tentunya memaksa para pengusaha logistik untuk berinovasi menciptakan layanan baru. 

Sementara menurut Eri Palgunadi selaku Vice President PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE), pada masa pandemi ini bisnisnya justru naik sebesar 10-20 persen. “Ada perubahan pola kuantitas pengiriman dari yang tadinya hanya tinggi pada weekdays, setelah terjadi perubahan pola konsumsi masyarakat melalui e-commerce, sekarang weekend jumlah pengguna jasa pengiriman barang meningkat,” ujarnya.

Isuzu sebagai penyedia kendaraan niaga pun tak ketinggalan dalam melakukan mapping segmen bisnis. Dari data Gaikindo, hingga bulan Mei 2020, market kendaraan komersial terkoreksi cukup dalam hingga 37,5 persen.

Begitu juga dengan yang dialami Isuzu dimana jumlah penjualan retail sales pun mengalami penurunan serta terkoreksi cukup dalam. Meskipun secara perolehan market share Isuzu justru meningkat.

Strategi Jitu Isuzu Tingkatkan Market Share 

Keberhasilan Isuzu ini antara lain disebabkan alasan Isuzu berhasil masuk pada segmen yang tepat di bisnis yang masih tumbuh meskipun total market kendaraan niaga sedang turun. 

Alasan lainnya karena dari sisi efisiensi menjadi perhatian pebisnis, yang mana produk Isuzu mampu memberikan total biaya kepemilikan dan operasional yang lebih kompetitif karena DNA mesin yang bandel dan irit bahan bakar, mengingat tingginya biaya operasional terbesar terletak pada konsumsi bahan bakar. 

Selain itu peran leasing juga turut berkontribusi besar. Karena dalam keadaan yang serba tidak menentu seperti saat ini, segmen logistik dan pengiriman barang justru dipermudah untuk proses kredit pembelian kendaraan. 

Apalagi saat ini Isuzu bekerja sama dengan official leasing partner memberikan program bunga nol persen untuk Isuzu Elf dan paket bunga nol persen untuk Isuzu Traga sebagai bentuk dukungan Isuzu membantu melewati masa sulit pandemi.

“Isuzu juga fokus pada penyediaan kendaraan yang dapat memenuhi kebutuhan customer, dan selama PSBB, Isuzu justru meningkatkan layanan purna jual. Saat PSBB banyak yang tidak boleh beroperasi, kami Isuzu justru mengantongi izin usaha terbatas dari Kementerian Perhubungan sehingga dengan armada Bengkel Isuzu Berjalan (BIB). Isuzu tetap memastikan mobil niaga customer dapat beroperasi dengan optimal,” tutup Attias Asril, GM Marketing PT Isuzu Astra Motor Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here