Mobil Listrik Masih Dilema Soal Limbah Baterai

0
18

Kendaraan bermotor listrik dianggap menjadi sebuah evolusi dalam teknologi kendaraan bermotor. Dengan kendaraan bermotor listrik hal tersebut dianggap mampu memberikan lingkungan lebih hijau karena tak ada emisi gas buang yang dihasilkan.

Kendati demikian, kendaraan bermotor atau mobil listrik masih punya kendala, yaitu soal baterai. Hal ini juga dipahami semua pabrikan.

Selain limbah yang menjadi isu paling hangat, masalah baterai yang belum terpecahkan termasuk soal harga mahal, bobot yang berat, sampai waktu pengecasan masih tergolong lama dibandingkan pengisian bahan bakar minyak.

Ternyata soal masalah baterai ini juga masih menjadi pekerjaan rumah pabrikan otomotif. Tek terkecuali Wuling Motors di Indonesia yang sudah memiliki produk mobil listrik, berupa E100 dan E200.

Menanggapi hal tersebut, Product Planning Wuling Motors Danang Wiratmoko angkat bicara. Menurutnya, baterai mobil listrik memungkinkan untuk di daur ulang. Pasalnya, dalam industri otomotif tak hanya pabrikan mobil saja yang ikut andil dan mengembangkan kendaraan listrik, tetapi akan ada perusahaan baterai juga.

 “Saya yakin ada beberapa perusahaan yang berskala global, yang punya kapasitas punya teknologi untuk menangani limbah baterai ini,” kata Danang beberapa waktu lalu.

Karena itu, dia mengungkapkan, jika mobil listrik sudah menjalar di jalanan Indonesia, bukan tak mungkin proses dan pengaplikasiannya juga bisa dilakukan. Termasuk penanganan terhadap limbah bakal menjadi masukan peraturan-peraturan terkait.

“Jadi akan memunculkan industri baru berupa pendukung manufacturing baterai, jadi baterai bisa didaur ulang tapi prakteknya tetap melihat perkembangan infrastruktur industri lainnya, tuturnya.

Tak hanya baterai, lanjut Danang, pada dasarnya kendaraan bermotor listrik dan komponen di dalam nya saat ini masih menjadi ekosistem industri baru yang tak menutup kemungkinan masih saling berkaitan. Termasuk soal tempat atau stasiun pengisian daya.

“Kami jual mobil tapi kan tidak jual bensin, kalau bensin pastikan perusahaan sebelah. Mungkin untuk kendaraan listrik, ini juga salah satu kasus yang sama. Jadi nanti provider mobil dan provider listrik itu mungkin adalah dua perusahaan yang berbeda,” jelas dia.

Namun begitu Danang rupanya punya argumen sendiri, dimana soal pengisian daya memungkinkan Wuling Motors memiliki tempat charging khusus. Salah satunya terletak di dealer Wuling.

Hanya saja, menurutnya, jika kendaraan bermotor listrik suatu saat menjadi sesuatu yang  mainstream di Indonesia, dan menyangkut hidup orang banyak, maka charging listrik itu pasti akan diatur oleh negara.

“Jadi kalau kita nanti bikin semacam pom listrik khusus untuk Wuling nanti yang lain ngiri,” tuturnya. (Her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here