Senin, Agustus 8, 2022
More
    MobilMobil Self Driving, Teknologi Autopilot di Mobil Indonesia

    Mobil Self Driving, Teknologi Autopilot di Mobil Indonesia

    Siapa yang tidak mengenal Tesla, pabrikan mobil yang sukses mencuri perhatian dunia dan sukses menjadi brand otomotif nomor satu di dunia. Selain karena teknologi menterengnya yang memproduksi mobil listrik bertenaga besar, fiturnya yang mencuri perhatian adalah teknologi autonomous driving atau mobil self driving / otonom yang berjalan tanpa perlu dikemudikan langsung oleh supir.

    Dari keberhasilan Tesla ini, bisa dikatakan bahwa kini dunia otomotif sudah siap untuk menyambut teknologi baru dan akan menyaingi mobil konvensional. Lalu, apakah di Indonesia mobil self-driving akan menjadi primadona baru? Mari kita mengenal lebih jauh tentang apa itu self driving, dan kelebihan dari fitur mobil canggih ini.

    Pengertian Mobil Self Driving

    Mobil self-driving atau mobil otonom, adalah salah satu bentuk kemajuan teknologi dimana mobil tersebut dapat berjalan secara otomatis dibawah pengawasan pengemudi. Teknologi ini sebenarnya sudah dikembangkan sejak lama. 

    Lalu, apa itu mobil self driving? Mobil self driving adalah kendaraan yang menggunakan kombinasi sensor, kamera, radar, dan kecerdasan buatan (AI) untuk melakukan perjalanan antar tujuan tanpa operator manusia. Konsep autopilot pada kendaraan ini pertama kali dikembangkan untuk mobil astronot di luar angkasa.

    Kemudian prototype dari mobil listrik mulai dikembangkan dengan lebih sederhana. Sistem kemudi dipandu oleh medan elektromagnetik yang dikendalikan radio dan dioperasikan dari paku logam bermagnet yang tertanam di jalan raya. Model ini berhasil menjadi dikembangkan pada tahun 1958.

    Inovasi teknologi self driving tidak berhenti disitu. Pada tahun 1977, produsen mobil di Jepang mengembangkan fitur self-driving dengan memberikan “mata” pada mobil. Mata tersebut ialah kamera yang akan memproses data dan mengolahnya untuk mengambil keputusan dari kondisi disekitar mobil.

    Sistem kamera pada mobil otonom ini menyampaikan data ke komputer untuk memproses gambar jalan. Konsep ini yang kemudian mengawali inovasi baru di dunia self-driving dan mobil mampu berjalan dengan kecepatan hingga 20 mil per jam.

    Dari konsep mobil otonom menggunakan kamera ini, kemudian teknologinya disempurnakan dengan menggunakan sensor. Pada mobil self-driving saat ini, teknologinya menggunakan kombinasi sensor, kamera, radar, dan kecerdasan buatan (AI) untuk melakukan perjalanan antar tujuan dengan pengawasan yang minimum dari supir.

    Teknologi ini sampai saat ini masih terus disempurnakan. Karena tentu saja, akan selalu ada evaluasi untuk meminimalisir kelemahan dari sistem mobil otonom. Namun tujuan utamanya, mobil harus dapat bernavigasi tanpa campur tangan manusia, mulai dari berangkat hingga sampai ke tujuan. 

    Faktor keamanan juga sangat penting mengingat sistem ini beresiko terjadi kecelakaan bila menghadapi faktor-faktor yang tidak diperhitungkan pengembang mobil otonom.

    Baca juga: Tesla Model 3 Masuk Indonesia, Ini Spesifikasi Lengkapnya

    Mobil self driving memiliki sensor untuk menghindari tabrakan

    Cara Kerja Self-Driving

    Seperti yang sudah sedikit disinggung sebelumnya, mobil self-driving memanfaatkan beberapa alat untuk membuat mobil mampu berjalan sendiri. Diantaranya sensor, kamera, radar, GPS, dan otak mobil untuk menavigasikan mobil dengan artificial intelligence (kecerdasan buatan).

    Walau di Indonesia sendiri belum ada mobil yang benar-benar bisa berjalan sendiri tanpa intervensi dari pengemudinya, hal ini bukan berarti tidak ada peluang bagi mobil otonom masuk ke pasar Indonesia. 

    Untuk teknologinya sendiri, sistem self driving pada mobil seperti Tesla dan Audi A5 sudah siap untuk menjadi mobil yang full dijalankan otomatis. Namun ada faktor seperti geografis, infrastruktur jalanan di Indonesia yang belum siap untuk sistem self-driving bekerja secara maksimal.

    Pengembang mobil self-driving menggunakan banyak data. Mulai dari rambu lalu lintas, kondisi jalanan, cuaca, pohon, trotoar, pejalan kaki, dan lingkungan mengemudi tertentu. Data inilah kemudian yang digunakan untuk “mengajari” mobil melalui gambar dan situasi dan membentuk kecerdasan buatan. Semua ini agar mobil dapat berjalan dengan perintah yang benar, dan menghindari terjadinya kecelakaan. 

    Cara kerja dari mobil otonom yakni:

    1. Menetapkan tujuan

    Seperti halnya anda naik taxi atau memiliki supir pribadi, pertama-tama, mobil self-driving ingin mengetahui kemana tujuan anda. Setelah tujuan ditetapkan, Sistem perangkat lunak mobil kemudian akan menghitung rute yang paling tepat untuk dilalui.

    2. Sensor lidar aktif

    Sensor Lidar yang berada di atap mobil akan aktif. Sensor ini berfungsi untuk memantau objek disekitaran mobil hingga jarak 60 meter. Dari sinilah, didapat data dan mobil akan melakukan pemetaan tiga dimensi (3D) dinamis dari lingkungan mobil saat ini.

    3. Sistem radar aktif

    Sistem radar yang terletak di bumper depan dan belakang menghitung jarak mobil ke objek terdekat agar tidak terjadi tabrakan.

    4. Komputer akan memproses data perjalanan dan navigasi

    Software AI di dalam mobil yang berfungsi sebagai “otak” akan memproses semua data yang didapat dari sensor, kamera, dan GPS.

    AI akan membuat pengambilan keputusan berdasarkan data. Misal kamera mendeteksi lampu lalu lintas menyala merah, maka mobil akan bersiap-siap untuk berhenti. Begitu pula dengan respon-respon lainnya untuk menjalankan gas, membelokkan kemudi dan menginjak rem.

    5. Ambil alih kendaraan

    Karena sistem self-driving tetap harus dalam pengawasan, pengemudi juga bisa mengambil alih kemudi dan secara otomatis bilamana diperlukan. Hal ini akan mengubah fitur sel-driving menjadi standby, atau bisa juga dimatikan.

    Baca juga: Kenapa Kita Butuh Mobil yang Bisa Mengemudi Sendiri?

    Kelebihan dan Fitur dari Self Driving

    Fitur autopilot atau self-driving memiliki tujuan untuk memudahkan pengalaman mengemudi. Berikut kelebihan yang ditawarkan dari mobil dengan sistem self-driving:

    1. Meningkatkan keamanan dan keselamatan penumpang

    Mayoritas dari kasus kecelakaan di jalan, terjadi karena faktor human error dari pengemudi kendaraan. Dengan adanya mobil otonom yang sudah teruji dari segi faktor keselamatan, maka kecelakaan karena sopir  mengantuk, atau hal-hal lainnya dapat dihindari.

    2. Ramah bagi lansia dan disabilitas

    Teknologi ada untuk membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin. Begitu Pula dengan self-driving. Fitur autopilot kendaraan akan memudahkan bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik untuk menyetir mobil.

    3. Mengurangi kemacetan

    Tahukah anda, selain karena faktor jumlah kendaraan, kemacetan terjadi karena banyak mobil berjalan dengan jarak yang rapat. Dengan fitur self-driving yang diprogram untuk memberikan ruang 3-4 mobil di depannya, maka macet dapat dihindari. Mobil-mobil lainnya dapat berpindah jalur agar lalu lintas lebih lancar.

    4. Memudahkan saat parkir

    Sering kesulitan memarkirkan mobil di ruang yang sempit? Teknologi mobil otonom tentunya dapat memarkirkan mobil tanpa perlu di kendarai. Hanya perlu memasukkan tujuan, dan mobil akan berjalan sendiri mencari tempat ternyaman untuknya. 

    Hal ini juga sangat membantu khususnya saat lokasi parkir jauh atau  jalanan hujan, anda hanya perlu menunggu di lobi dan mobil akan datang sendiri menghampiri.

    5. Terhindar dari tilang

    Salah satu masalah di jalan adalah seringkali kita tidak begitu ingat peraturan khusus di jalan tertentu. Bisa jadi tanpa sadar melewati batas kecepatan, masuk di jalan ganjil genap, dan lain-lainnya.

    Dengan fitur self-driving, anda bisa lebih tenang dan tidak perlu membagi fokus antara mengemudi dan memastikan kecepatan di speedometer. Anda dapat mengemudi dengan aman, dan terhindar dari melanggar peraturan karena komputer tidak akan lupa harus mengambil jalan yang mana.

    Baca juga: Harga Mobil Tesla Bekas, Berapa Paling Murah?

    Tipe Mobil Self Driving

    Fungsi self-driving pada mobil sebenarnya terbagi pada tingkatan tertentu. Tipe ini dibagi berdasarkan sejauh apa peran sistem ini dalam mengambil alih mobil. Berikut penjelasan dari tipe mobil self-driving:

    Self-Driving level 1:

    Pada tipe ini, fitur self driving hanya mampu membantu pengemudi pada tugas-tugas sederhana. Misalnya untuk menjaga kecepatan tertentu, mengerem, dan setir otomatis. Tipe ini merupakan yang paling banyak ada pada mobil di jalanan saat ini.

    Self-Driving level 2:

    Pada tipe ini, pengemudi harus tetap mengawasi autopilot. Namun sudah ada fitur tambahan, misal pengereman otomatis dan cruise control yang dapat bekerja bersamaan.

    Self-Driving level 3:

    Fitur self driving pada mobil sudah dapat mengemudikan dirinya sendiri. Namun hanya terbatas pada kondisi jalanan yang teratur misalnya jalan tol. Tipe mobil ini tetap harus diawasi namun dengan fokus yang minimum.

    Self-Driving level 4:

    Fitur autopilot di mobil semakin canggih. Bisa melalui jalanan macet dengan baik, dan punya fitur-fitur tambahan di luar perannya menavigasikan kendaraan.

    Self-Driving level 5:

    Lalu, tipe terakhir yakni self-driving dengan fitur tertinggi. Mobil bisa berjalan tanpa pengawasan dan memiliki standar keamanan tertinggi. Tentunya mobil ini hanya bisa mencapai fitur maksimalnya dengan dukungan infrastruktur jalan dan rambu-rambu  yang mendukung.

    Bagaimana pendapat anda tentang teknologi canggih satu ini? Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, semua mobil pasti memiliki hal tersebut. Bila anda sangat tertarik untuk memiliki mobil canggih ini, tersedia banyak pilihan mobil dengan self-driving di OLX Autos

    Di OLX Mobil self driving seperti Tesla, Hyundai Palisade, bisa dibeli dengan kondisi yang optimal. Dengan jaminan kualitas melalui inspeksi dari mekanik berpengalaman, anda akan mendapatkan mobil Self driving dengan harga yang terbaik untuk anda miliki!

    Berita Terpopuler

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here